after the heavy rainfall and thunder and storm a.k.a heartbroken
I think a ray of sunshine has come upon me
:)
cutie :D
kreatif banget. pengen bisa bikin ilustrasi yang bagus juga tentang Indonesia
reblogged from
jajanan pasar
(Source: admiralsaber)
Kadang aku suka mikir, gimana kalo aku waktu itu ga keterima di UI? Gimana kalo waktu itu aku tetep ngambil sastra inggris di UNY. Aku yang jelas ga bakal ketemu Utri dan temen2 asrama aku, ga ketemu mugals, ga ketemu dosen-dosen aku. Ga terlibat Spring Mapres, Prokadisu, atau ICMSS. Mungkin aku bakal pulang ke rumah sebulan sekali. Mungkin aku masih jadi debater. Mungkin aku tinggal sama budhe aku dan bakalan diajarin masak dan hal-hal lain yang bisa bikin aku jadi cewek Jawa berkualitas (hahaha). Banyak banget kemungkinan. Dan aku nggak ngerti.
Nggak ngerti kenapa dari sekian banyak kemungkinan itu, Allah memilih jalan ini buat aku. Bukannya aku nggak bersyukur, Cuma pengen tahu aja. Kenapa? Kenapa aku tinggal di asrama dan bukan kos, sehingga aku dapat keluarga baru kayak Utri dkk? Kenapa aku masuknya di Ekonomi? Kenapa jurusan yang aku pilih itu manajemen? Memang itu keinginan aku tapi kenapa Allah bikin aku punya keinginan itu? Dari kecil aku pengennya masuk UI, darimana aku dapat keinginan itu?
Kadang se-klise apapun pernyataan ini, ketemunya aku dengan orang-orang di sekitar aku sekarang, itu takdir kan? Coba, aku gak bakal ketemu temen2 aku sekarang, para mugals, kalo waktu itu aku memutuskan gak berangkat ke UI. Aku gak bakal ketemu Utri Sabrina Tiwi Dea kalo aku kos dan nggak tinggal di asrama. Atau kalau aku tinggal di asrama tapi di lantai 3 bukan lantai 4.
Jadi, ketemunya aku dengan orang-orang di sekitarku, itu takdir. Benar-benar menakjubkan. Itu takdir, terus apa? Apa tujuan Allah menakdirkan aku ketemu orang-orang ini? Aku masih belum mengerti, dan mungkin nggak akan mengerti. Tapi apa pun itu, aku harus bersyukur karena sudah diperkenalkan dengan orang-orang ini. Meskipun banyak dari mereka yang annoying dan agak kurang ajar, tapi mereka sudah ada selama ini dalam hidup aku. Makasih :)
Apakah menurut kalian, itu judul yang norak? Atau lame? Atau kuno banget? Atau ‘apaan sih’? Kalau iya berarti kita harusnya sedih, karena itu adalah kata-kata yang luar biasa tapi kita menganggapnya norak. Dia sudah turun pangkat. Harusnya dia jadi pemersatu bangsa, jargon yang mengingatkan bahwa kita saudara saat kita lupa. Kini dia hanya jadi ucapan klise anak TK. Waktu TK kita pasti suka mengucapkannya, sebab guru kita selalu mengajari begitu. Dan jadi anak TK, kita suka mengulangi ucapan yang baru kita dengar. Makin dewasa, kita makin punya ego: tidak mau lagi mengulangi ucapan yang banyak kita dengar, maunya mengulangi ucapan yang (kita anggap) benar, keren, dan tidak banyak orang yang tahu, misalnya sex, drugs, and rock and roll. Kedengarannya keren, padahal sama sekali enggak. Dan meaningless pula.
Lalu, jargon Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh jadi terlupakan. Akhirnya tidak ada lagi yang mengingatkan bahwa kita ini saudara, satu negara. Aku dan kamu jadi orang asing. Muslim dan Nasrani jadi musuh, Jawa dan Batak jadi terpisah, kaya dan miskin jadi segan. Primordialisme muncul. Karena tidak ada yang mengingatkan akan identitas kita sebagai orang Indonesia, kita berlomba-lomba meng-attach diri kita pada suku kita, agama kita, ras kita, status sosial kita, materi kita. Bangga dan mengekslusifkan diri. Yang kaya tiap hari minum kopi Starbucks merasa lebih hebat dari yang miskin yang sudah menabung pun cuma bisa beli kopi pahit warung sebelah. Ketika tidak sengaja suatu kelompok tersinggung perasaannya, mereka membalas dengan anarkisme pada penyinggung perasaan. Alasannya solidaritas kelompok. Lupa bahwa yang diserang adalah saudara juga. Yang mungkin cuma sedang khilaf, yang mestinya ada cara penyelesaian lain yang lebih baik. Akhirnya chaos. Seperti leukimia. Sesama darah, tapi darah putih malah memakan darah merah, temannya sendiri. Tubuh pun hancur, dalam waktu yang tak lama. Chaos ini pun, bisa menghancurkan negara ini. Seperti leukimia, lebih cepat dari yang kita duga.
Chaos-chaos ini terjadi setiap saat di seluruh negeri. Pelajar tawuran, seteru antarkampung, juga amuk massa dimana-mana. Untunglah, jika kita perhatikan opini banyak orang di kehidupan nyata, sebenarnya banyak juga yang masih waras dan menganggap anarkhi itu dosa. Jadi tidak semua orang lupa bahwa kita saudara. Untuk memperbanyak jumlah orang seperti ini dan menghilangkan orang dengan kebanggaan SARA tinggi, kuncinya adalah pendidikan yang baik.
Jarang kita dengar ada mahasiswa atau pelajar dari sekolah yang dianggap masyarakat unggulan melakukan tawuran atau seteru. Kebanyakan mahasiswa dan pelajar yang terpelajar, sudah banyak menerima ceramah dan training tentang arti persatuan, pentingnya persatuan. Lingkungan pendidikan di sekeliling mereka juga tidak mendukung munculnya primordialisme, sebab di dunia ini kemampuan dan kepribadian yang bicara. Tidak ada suku, agama, maupun ras yang didukung. Mau dia Batak, Cina, ataupun Jawa, selama dia mampu dan berkepribadian baik, orang tidak akan sentimen padanya, justru mendukung dan mengaguminya.
Pendidikan yang baik akan mengajarkan baik dan buruk yang sesungguhnya. Saat salah satu teman kita merasa tersinggung oleh seseorang dari kelompok yang lain, kita tidak akan serta merta memberi judgement bahwa teman kita yang benar, mereka yang salah, jadi ayo kita serang mereka. Kita bisa memutuskan sendiri apakah teman kita yang salah, mereka yang salah, dua-duanya yang salah, atau mungkin dua-duanya tidak salah, cuma ada miskomunikasi. Pendidikan yang baik senantiasa mengingatkan kita bahwa ‘kita bukan apa-apa kalau bukan satu’. Pendidikan yang baik akan selalu mengingatkan kita untuk ingat pada pengingat: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Seperti ibu yang selalu mengingatkan anaknya yang menderita leukimia untuk terus minum obat dan kontrol. Kalau tetap saja ada pelajar dan mahasiswa yang cukup bodoh untuk melakukan tawuran, itu entah karena mahasiswa dan pelajarnya yang terlalu bebal sehingga pendidikan tidak bisa menembus kulit kepalanya atau pendidikannya buruk. Ibunya kurang tegas dalam mengingatkan.
Semoga bisa muncul pendidikan-pendidikan yang baik, yang akan mengajarkan istilah “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” dan mengajarkan maknanya, pentingnya. Bukan sekali dua kali di TK dan SD tapi berlanjut ke SMP dan SMA dan perguruan tinggi, sebab pandangan ini harus selalu diingat. Harus ada mata pelajaran yang membangkitkan semangat nasional, bukan semangat keagamaan, atau semangat kesukuan. Banyak sekolah dan lembaga pendidikan sudah cukup baik meramu ajaran ini dalam mata pelajaran-mata pelajarannya, namun jauh lebih banyak yang belum. Ada juga yang sudah punya pelajaran seperti ini tapi belum efektif. Semoga ke depannya ini bisa diperbaiki, agar Bersatu Kita Teguh bercerai Kita Runtuh tidak jadi kalimat norak ucapan anak TK, tetapi jadi pemersatu bangsa yang luar biasa. Kita butuh kalimat ini untuk jadi pengingat, agar saat kita ingin tawuran kita ingat bahwa yang akan kita serang itu saudara kita. Tawuran akan meruntuhkan kita, melemahkan kita, padahal bangsa kita adalah bangsa yang ditakdirkan kuat.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Kuatkanlah.
Yuanita Intan.
nggak nyangka memorial kayak gitu dapet penghargaan. ga rugi lah begadang beberapa malam ampe nginep2 segala. thanks mb gusva for being a very good and hardworking partner
In two days, I’ll be defending my case in International Court of Justice over a territorial dispute between my country and a bastard country trying to eat my area!
wish me luck :) :) :)
Tadi waktu ikut Research Day FEUI 2011, dapet PR dari Bapak Profesor Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. PR ini buat semua anak muda di Indonesia. Jumlahnya ada 4 soal.
1. Menaikkan peringkat kesejahteraan Indonesia (dari peringkat x terburuk dunia - maaf ya tadi lupa peringkat berapa dan gak mau asal sebut, tapi masih 1 digit kalo ga salah)
2. Menurunkan turnaround time bandara dan pelabuhan. Masa orang nunggu di bandara sama pelabuhan itu butuh waktu lebih lama daripada penerbangan/pelayarannya sendiri? Padahal dulu kita negara maritim, yang pelabuhannya gede-gede dan terkenal. Nenek moyang kita bisa nangis kalo tau keadaan pelabuhan kita sekarang.
3. Anak muda jangan cuma buang-buang waktu aja. Laptop, HP jangan cuma buat main-main. Pake teknologi buat kerja.
4. Anak muda harus tahu budaya, tahu filsafat, tahu politik, tahu sosiologi, tahu antropologi. Biar bisa mimpin nantinya.
PR ini dikumpulkan 35 tahun lagi. Kalo ternyata belum selesai, i.e kondisi Indonesia 35 tahun lagi masih kayak gini-gini aja, maka ini akan jadi failure legacy dari generasi kita. Generasi kita yang akan dikutuk dan dicap gagal oleh generasi di bawah kita
Dikerjain ya PR-nya :)